Dipelupuk Mata Nirmala
Cerpen

Dipelupuk Mata Nirmala

MATANYA selalu memancarkan keceriaan sekaligus ketenangan yang matang. Menatap matanya, seperti lebur dalam keterasingan. Perlahan, keterasingan itu menjadi dekat, lekat dan menjadi satu keutuhan. Karena keterasingan itulah awal aku mengenal sesuatu yang kemudian menjadi bagianku. Hanya dari matanya pula aku bisa menerka atau tepatnya sedang membaca apa yang ia rasakan. Suatu senja, saat aroma dupa menebar … Baca lebih lanjut

Di Bawah Remang Lampu
Cerpen

Di Bawah Remang Lampu

Cerpen Putriatra Senudin* AKU sudah menawarkan pilihan pada diriku sendiri; tetap disini atau pergi. Keduanya sama-sama menyisipkan dilema yang berkepanjangan. Memilih pergi berarti aku tidak (lagi) dianggap sebagai pewaris budaya dan tahta adat. Sebagai anak sulung laki-laki, aku dibebankan tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan budaya yang telah diwariskan nenek moyangku. Sementara, memilih tetap … Baca lebih lanjut