Surat Terbuka

Bahkan untuk Sholat Mereka Harus Sembunyi…

[foto: modifikasi dari sumber www.couriermail.com.au]

[foto: modifikasi dari sumber http://www.couriermail.com.au]

SEBELUM puasa, setelah sekian lama tidak pulang, saya putuskan untuk mampir ke rumah Ibu. Kakak, adik dan anak tertua saya mengabarkan bahwa Ibu, karena usianya yang semakin tua, sering sakit-sakitan. Ibu tinggal di satu kawasan sangat padat. Gang kecil memasuki rumahnya hanya ber-lebar 1 meter.

“Penyakit” saya kalau bepergian adalah lupa hari. Begitulah, saya sama sekali tidak ingat, kalau hari itu hari Jum’at. Saya tiba di ujung gang sekitar jelang jam 12 siang. Dengan menyeret koper kecil, saya langsung saja masuk dan membuka pintu masuk rumah. Saya kaget ketika melihat ada sekitar belasan orang sedang khusyuk mendengarkan seseorang berkhotbah. Saya segera berputar lewat samping rumah sambil baru menyadari bahwa itu hari Jum’at, dan orang-orang itu pasti sedang sholat Jum’at.

Saya juga menyadari mereka pasti orang-orang Ahmadiyah yang terpaksa harus melakukan ibadah di rumah, karena masjid mereka disegel. Keluarga saya memang Ahamdiyah. Saya lalu tertarik mendengarkan apa isi khutbah sang khotib (pengkhutbah). Bayangan saya ketika itu ia pasti akan memberi semangat agar para anggota Jama’ah tetap kuat dan tabah menghadapi segala cobaan. Sambil menyampaikan segala bentuk ketidakadilan yang mereka hadapi. Dugaan saya meleset 100%!! Karena si khotib hanya berbicara seputar bulan suci Ramadhan.

Usai sholat, ketika mereka semua pulang, saya menemui Ibu. Ibu kelihatan begitu ringkih. Bahkan ketika sholat-pun ia duduk di kursi. Sebagian rambutnya sudah putih. Jalannyapun tertatih-tatih, walau tanpa alat bantu apapun. Di antara anak-anak dan cucu-cucu, kami mempunyai panggilan kesayangan “Ceot” untuk Ibu. Ibu adalah orang desa sangat sederhana dengan pendidikan tidak tamat SD.

Saya: “Ceot, kenapa sholat di rumah dan tidak di masjid?”

Ibu: “Masjid disegel. Kami dilarang sholat di sana. Masalah-masalah besar tidak bisa mereka urus, tapi kalau melarang kami sholat mereka bisa. Heran, negara apa ini? Mau sholat saja, kok, dilarang?”

7 Agutus 2011

– Saleh Abdullah.

Penulis adalah Anggota Dewan Pengurus INSIST. Dulu pernah kerja untuk advokasi pelanggaran HAM di Timor-Leste. Menerbitan beberapa tulisan tentang Timor Leste di masa Orde Baru.

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s