Sastra / Sejarah

Nostalgia Flobamora (5)

Anak-anak sekolah Misi di Rote sedang melakukan tarian tradisional di bawah bimbingan seorang guru di tahun 1930-an. [Foto: P. Middelkoop, diberikan oleh H. Schulte Nordholt kepada KITLV dari kepemilikan Conelia Middelkoop-Koning]

Anak-anak sekolah Misi di Rote sedang melakukan tarian tradisional di bawah bimbingan seorang guru di tahun 1930-an. [Foto: P. Middelkoop, diberikan oleh H. Schulte Nordholt kepada KITLV dari kepemilikan Conelia Middelkoop-Koning]

Oleh Gerson Poyk

TIBA-TIBA saja, kami bertiga, ibu, aku dan adikku Matilda telah berada di atas sebuah kapal yang berlayar dari Endeh menuju Rote dan Kupang. Aku ingat betul, di kapal kami makan nasi dan ikan asin goreng sepuas-puasnya. Sehabis makan, masih ada tersisa banyak ikan dan nasi. Ibu tidak membuangnya. Aku mengikuti ibu ke atas dek dan membawa nasi itu lalu dijemurnya.

Itulah yang kuingat, bagaimana seorang ibu diterpa tekanan hidup, menjaga baik-baik nasi pemberian Tuhan. Seterusnya entah jadi apa nasi itu, aku tak ingat lagi. Aku hanya ingat bahwa kami turun di pelabuhan Ba’a dan menginap di rumah seorang sanak yang aku tak ingat siapa namanya.

Tiba-tiba muncul abangku tertua, Benyamin J. Messakh. Dia datang dari desa Oetefu dengan kuda. Aku dibonceng ke rumahnya. Di tengah jalan aku melihat pohon kesambi sedang berbuah lebat. Abangku memetik beberapa buah dan menyorong kepadaku. Aku tak ingat apakah aku dibonceng di belakangnya atau didepannya. Tiba di Oetefu aku disambut oleh kakak perempuan nomor dua, Mariana dan langsung diberi makan dan mengunjungi beberapa sanak di rumah adat di belakang rumah utama. Beberapa tanteku menyambut aku dengan ciuman sedang yang satu lagi yang dipanggil Te’o Pokek (Tante Buta) meraba-raba aku mulai dari kaki sampai ke kepala. Kemudian aku dibawa ke rumah utama sebuah rumah panggung dan diberi uang logam beberapa keping lalu membiarkan aku tidur siang di sebuah ranjang berseprei putih dan berkelambu. Aku sendiri yang tidur di rumah itu. Kamar-kamarnya kosong.

Ayah Usi Mariana mungkin saja tinggal di rumah istrinya di luar halaman istana mantan raja yang disebu Mba’adulek. Di halaman yang sekelilingnya berpagar batu itu ada tiga buah rumah. Sebuah rumah cukup besar menurut pandangan seorang anak, berlantai tanah putih.

Namodale, Rote, tempat kelahiran Gerson Poyk, sekitar tahun 1920. [Foto: KITLV]

Namodale, Rote, tempat kelahiran Gerson Poyk, sekitar tahun 1920. [Foto: KITLV]

Begitu bangun sore, aku sendirian di rumah panggung itu. Kakak Usi, Susi Mariana entah di mana. Aku berdiri di beranda depan memandang pohon kelapa dan lontar. Bunyi burung tekukur dan udara panas sore hari membuat aku rindu pada ibu. Maka kerinduan itu membuat aku menangis sendiri, sambil memanggil-manggil, “mama… mama…” Mama tak menjawab, mama tidak muncul-muncul walaupun abang sulungku telah berkuda ke Ba’a yang jaraknya dua puluhlima kilometer.

Tiba-tiba terpikir atau teringat, kata guru Sekolah Minggu, bahwa apa yang kita minta dari Tuhan maka Tuhan akan memenuhi permintaan kita. Aku pun menutup mata dan berdoa kepad Tuhan. “Tuhan, saya minta mama saya cepat datang. Saya kesepian. Tuhan, saya minta kalau saya membuka mata maka mama saya sudah ada di depan saya,” begitulah doaku. Sungguh lucu. Sia-sia. Naif. Begitu aku membuka mata ibu tiada.

Akan tetapi aku sama sekali tidak mengomeli Tuhan. Aku bergerak entah ke mana, lupa, tidak teringat oleh khazanah kenangan masa kecilku. Terlalu banyak detik dan jam yang kulupakan. Aku hanya ingat, tiba-tiba saja ibuku dan adikku datang dibawa oleh abangku dan oleh Tuhan. Aku ingat, kami bertiga ditempatkan di rumah besar di samping kiri rumah utama di kamar depan yang berdinding setengah sehingga pandangan ke halaman tidak terhalang.

Di malam hari dari balik kelambu aku melihat ada manea menjaga kami. Manea adalah petugas sukarela yang bergiliran menjaga di rumah raja. Selain menjaga siang malam, tugas serabutan dilakukannya. Ibu meninggalkan kami bermain di halaman.

Para perempuan pada saat sebuah upacara [kemungkinan perkawinan] di Rote sekitar tahun 1930. [Foto: KITLV]

Para perempuan pada saat sebuah upacara [kemungkinan perkawinan] di Rote sekitar tahun 1930. [Foto: KITLV]

Kami diberi makan nasi dan daging penyu yang dibawa dari Pulau Ndana milik rakyat dan Raja Ti, pulau kosong manusia kecuali roh atau arwah rakyat Ndana yang dibunuh orang Ti, kambing liar, rusa dan burung serta penyu yang selalu datang ke pantainya untuk bertelur. Abangku hampir setiap hari berlatih pencak silat di salah satu kamar di rumah besar itu, rumah yang dikelilingi beberapa kulit lola raksasa yang konon diambil dari pantai dan laut selatan Rote.

Tidak lama kemudian kami pindah ke Oekahendak, sebuah dusun kecil yang terdiri dari tiga buah rumah dan sebuah mata air kecil. Disana aku dan adikku bergabung dengan kedua kakak kami, Dina dan Min kecil yang tinggal bersama Papa To’o kami (saudara ibu) dan Te’o Fia kakak perempuan ibu yang tidak kawin.

Seorang kakak perempuan ibu kawin dengan seorang dari keturunan raja Ndana, dari fam (marga) Nunuhitu. Salah satu anak perempuannya yang kami panggil Susi Be’i, kawin dengan Ali Bajiher dan beranak pinak di Ba’a. Hanya Papa To’o (paman) kami yang banyak punya anak sehingga dusun kecil itu tidak terlalu sepi karena memiliki laki-laki yang bisa menyadap lontar dan tati tine (memotong semak belukar di kebun berkarang) dan mengolah sawah yang airnya diperoleh dari Danau Tua dan dari sebuah mata air kecil di Oekahendak itu.

Aku masih ingat wajah Papa To’o, pamanku. Kulitnya kuning seperti ibuku. Badannya kekar. Wajahnya ganteng seperti wajah Hemingway. Ia sangat eksentrik. Sangat eksentrik bagi penduduk sekitarnya karena ia suka memaki dengan bahasa jorok.

Aku sayang betul pada Papa To’o pamanku. Ia suka tertawa keras memperlihatkan giginya yang bagus. Paling kurang senyumnya yang ramah. Pakaiannya celana pendek dan baju tangan pendek. Ia tidak memakai sepatu atau sandal. Aku ingat sekali pada Te’o Fia, tanteku yang tidak banyak bicara tetapi selalu sibuk, menumbuk padi, memberi makan ternak dan sibuk di sawah dan ladang.

Kakak perempuanku membantu Te’o Fia mengambil air ke mata air. Abangku Benyamin (Min Kecil) tak pernah diam. Hampir tiap hari ia pulang membawa tekukur, burung pipit dan udang kecil. Aku sibuk membakar burung-burung itu untuk dimakan. Abangku Benyamin adalah tarsan kecil, spartan. Dia pelempar tepat.

Jika mau makan daging tekukur yang merupakan wabah bagi tanaman padi dan kacang ijo. Min Kecil tinggal memungut batu dan melemparkan ke kerumunan tekukur itu. Lemparannya sangat kuat. Batu yang meluncur sampai berbunyi, mendesing membelah udara. Tekukur yang mati lebih dari satu ekor. Aku sangat gembira bila abangku membawa setumpuk tekukur. Dia lalu mencabut bulunya, membuang usus dan kotorannya dan mencucinya kemudian membubuhkan garam dan memanggang burung itu di halaman.

Kalau tidak tekukur, dia membawa sekeranjang burung pipit yang paruhnya merah dan kuat. Aku mengunyah pipit panggang itu. Dagingnya, tulangnya, sampai ke kepalanya yang berisi otak. Enak sekali dimakan dengan nasi. Ketika musim hujan tiba, parit kecil yang berasal dari mata air itu meluap. Air dipakai untuk mengaliri sawah di sekitarnya.

Yang menarik, udang-udang kecil banyak sekali padahal di musim kemarau parit itu kering. Rupanya Min Kecil menangguk udang-udang itu sampai keranjangnya penuh dan dibawanya pulang. Udang kecil itu direbus dan aku melahapnya. Ketika aku sedang melahap udang beserta nasi, abangku menggodaku.

Dia mengatakan, udang-udang itu telah melahap cucian pakaian orang baru bersalin. Akan tetapi aku aku tidak peduli. Aku makan terus tanpa merasa jijik. Bukankah sudah dicuci.

Setiap hari, sepulang sekolah ia menjadi manusia alam. Dia membuat jerat dari rambut ekor kuda. Aku melihat di ladang jerat-jerat itu berderet panjang sekali mengganggu tanaman padi, jagung dan kacang. Ia juga mengenal gua di sekitar kampung kami denganbaik. Biasanya, kalau kami ke sekolah, bekal kami sebuah lempeng gula lontar. Untuk memperkenalkan guanya ia menyuruh kami berjalan-jalan dan ia berlari ke gua itu lalu memukul-mukul stalagtit dan stalagmit sehingga kedengaran dari jauh bagaikan ia memukul gong. Kemudian sang penemu dan pemandu wisata kembali ke jalanan. Tiba-tiba ia menyuruh kami mundur ke belakang dan menunggu dia pergi sebentar karena ada perempuan putih sedang mandi. Ia ingin mengintip perempuan yang mandi itu. Maka Benyamin, anak Sekolah Rendah yang baru duduk di kelas tiga itu pun pergi. Tidak lama dia kembali dan menggeleng-geleng kepala.

Para Perempuan Rote dalam sebuah tarian tradisional [Kemungkinan Kebalai] sekitar tahun 1930. [foto: KITLV/Middelkoop]

Para Perempuan Rote dalam sebuah tarian tradisional [Kemungkinan Kebalai] sekitar tahun 1930. [foto: KITLV/Middelkoop]

Tidak jadi intip, karena yang mandi itu Susi Di’a (panggilan akrab dari kakak perempuan kami Dina). Libido monyet abangku memang parah. Kalau ia melihat ada gadis-gadis lewat, untuk mencari perhatian gadis-gadis tanggung itu, ia memanjat ke pohon lontar kemudian bergantung kepala ke bawah seperti kalong. Semua orang kagum melihat ia bergantung mengaitkan kaki ke pelepah lontar lalu kepalanya digantungkan ke bawah. Pohon lontar itu cukup tinggi.

Dia tidak takut pada ular berbisa. Pada suatu hari, kami, anak-anak yang lebih kecil darinya sedang mengerubungi dan menonton seekor ular ijo yang berbisa, melingkar di ketiak akar pohon kesambi sambil memagut-magut. Tiba-tiba abangku muncul. “Mundur, mundur, mundur,” katanya lalu meraup leher ular itu dan melenggang pergi.

Ketika raja Thobias Messakh, ayah Kakak Dina dan Abang Min Kecil meninggal, ibu pulang ke Oekahendak, sedangkan abangku yang paling tua Min Besar dan Susi Miana (Kak Mariana), tetap tinggal di istana Mba’adulek, milik ayah mereka raja yang dibuang oleh Belanda ke Sumbawa dan Flores (karena ikut memimpin serangan dalam perang suku antara kerajaan Ti dan Dengka).

Waktu ibu kawin dengan ayahku – seorang mantri rumah sakit di Ba’a, Kak Dina dan adinya seayah tinggal dengan papa To’o dan Te’o Fia. Ketika kami datang ke Oekahendak dari Bajawa, Abang Min Kecil telah duduk di kelas tiga, sebuah sekolah yang terletak tidak jauh dari dusun ibu, disebut Tudameda. Sekolah itu terbuat dari bebak (pelepah gebang) yang bercelah-celah mudah diintip dari luar dan dari dalam. Atapnya terdiri dari daun lontar. Tampaknya seperti kandang kambing, tetapi dari sekolah itu beberapa sarjana dan orang terkenal Indonesia lahir dan bekerja di luar pulau, terutama di Jawa, tak pulang-pulang membangun kampungnya. [Bersambung]

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s