Catatan Ringan

Piala Dunia dan Bendera Tiga Warna

Seorang laki-laki Asmat dengan bendera Belanda. Tahun tidak diketahui. [Sumber: www.papuaerfgoed.org]

Seorang laki-laki Asmat dengan bendera Belanda. Tahun tidak diketahui. [Sumber: http://www.papuaerfgoed.org]

Oleh Andy Tagihuma*PAPUA itu Lembah Baliem dan koteka, Papua itu Asmat dan ukiran. Begitu yang selalu ada dalam alam fikir tong pu sebagian teman-teman di sebrang sana eee. Tapi itu dulu eee, skarang su tra begitul agi.Satu kali pas selesai kuliah baru tong tunggu jam kuliah berikutnya, sa pu teman Bondet de tanya “Kamu dari Wamena to, disana masih ada orang makan orang ngak?”“Wah Mas, kalo masih ada, kamu sudah dalam kuali, ngak duduk di samping saya lagi,” sa jawab asal saja, sambil tertawa kecil, hihihihihi.Bondet de lansung pasang muka serius baru de bilang “Ahh, jangan gitu, kamu bercanda kan.”

Sa langsung pica ketawa, “Bondet ko pikir sa gila ka, itu kan sudah lama tidak ada, ya kira-kira sampe tahun 1970-an, tetapi bukan di Wamena, di Selatannya Wamena. Makanya baca yang banyak, jangan hanya nonton telenovela. Maria Marcedez saja yang kau fikir”

De langsung senyum-senyum, macam malu-malu pus ka ini. Sa pu teman Bondet ini de badan tokar, kulit warna hampir sama deng sa. De pu udik-udik ni yang bikin lucu skali.

Di awal tahun 1990-an di Malang, anana Papua yang kuliah bisa dihitung deng jadi, tra lebih dari 100 orang. Makanya sering jadi perhatian.

Kota Malang pada waktu itu masih dingin dan sejuk, belum ada ruko yang tahambur macam skarang ini. Dan jalan kaki itu paling menyenangkan.

Malang juga akrab deng anana Papua, itu gara-gara Paitua Acub Zainal dan Ebes Sugiyono. Dong dua pernah tugas di Papua, Paitua Acub Zainal menjabat sebagai gubernur dan Ebes Sugiyono sebelum menjadi Walikota Malang adalah Wagub di Papua yang waktu itu masih bernama Irian Jaya.

Paitua Acub Zainal tanggal 11 Agustus 1987 mendidikan klub bola kaki Arema, untuk ikut dalam kompetisi Galatama. Paitua kemudian de ajak anana Papua bergabung dalam Arema, waktu itu ada Panus Korwa, Betay, Mecky Tata hingga Dominggus Nowenik. Dong itu pernah bawa Arema juara Galatama musim kompetisi tahun 1992-1993.

Sa pu teman Bondet de paling ingat momen itu, jadi waktu tong duduk minum kopi di warung de tanya sa, “Mas, kamu bisa main bola?”

“Sa tra bisa main bola!”

“Masa Mas, ngak bisa main bola, kan orang Papua itu jago-jago main bola, itu di Arema ada Panus, Mecky, mereka mainnya hebat Mas. Aku juga masih ingat gaya mainnya Timo Kapisa, Adolf Kabo dan Rully Nere.”

“Iyooo, tapi kan tidak semua orang Papua bisa main bola kaki, dan kalau saya tidak bisa main bola, kalo tendang bola boleh sa bisa!”

De langsung pica ketawa, hahahahahahaha, “Itu sama saja Mas, kamu nih ada-ada ajah.”

Hahahahahaha, “Jadi kamu mo ajak sa main bola?”

“Oke, kita main di lapangan luar Stadion Gajayana”

“Ahh, itu kejauhan, di lapangan IKIP aja”

“Ya, aku tunggu kamu besok sore yah”

“Yoooo, sapa takut!”

Begitu suda, tong tra tau main bola tapi, dari Papua lagi jadi, dong kira bisa main bola kaki ka ini.

Memang bola kaki di Papua tuh macam su jadi urat nadi, kalo tra main pata kaleng, main gawang kecil hitung deng langkah. Dulu di kampung trada bola, tong bikin deng plastik, gulung plastik sampe bokar baru ikat-ikat deng karet. Kalo trada plastik tong cari pohon pakis, ambil bagian tengah yang macam gabus, baru tong kikis sampe jadi bola yang besarnya sama dengan bole tenis.

Di Papua, kalo ada pertandingan piala Eropa atau piala dunia, paitua-paitua dorang hanya pilih dua negara petama Belanda yang ke dua Jerman. Trada lain karena memori sejarah masi melekat kuat macam sempe tahan papeda. Anana dong bilang itu paitua Waranda dorang.

Pembukaan de Nieuw-Guinea Raad atau Dewan Guinea-Baru, di belakang meja dari kanan, depan ke belakang, Wakil ketua Kedua Nicolaas Jouwe, presiden JHF Sollewijn Gelpke dan wakil ketua pertama Markus Wonggor Kasiepo, dan lebih lanjut ke sudut kiri depan Gubernur P.J. Platteel, dan di sudut kanan di barisan depan dalam kostum terang Menteri EH Toxopeus (kedua dari kanan) dan Sekretaris Th.H. Bone, dengan sampingnya pemimpin delegasi, Ny JM Stoffels van Haaften dan delegasi dari Australia dan Selandia Baru. [Sumber: KITLV]

Pembukaan de Nieuw-Guinea Raad atau Dewan Guinea-Baru, di belakang meja dari kanan, depan ke belakang, Wakil ketua Kedua Nicolaas Jouwe, presiden JHF Sollewijn Gelpke dan wakil ketua pertama Markus Wonggor Kasiepo, dan lebih lanjut ke sudut kiri depan Gubernur P.J. Platteel, dan di sudut kanan di barisan depan dalam kostum terang Menteri EH Toxopeus (kedua dari kanan) dan Sekretaris Th.H. Bone, dengan sampingnya pemimpin delegasi, Ny JM Stoffels van Haaften dan delegasi dari Australia dan Selandia Baru. [Sumber: KITLV]

Kalo pas Belanda main, jang ada yang coba cari gara, itu bisa tulang belakang bunyi ato dapa usir dari rumah. Jadi kalo Belanda main itu lebih baik siap roti deng teh saja baru duduk manis di depan tv.Jadi kam jang heran kalo skarang su ada yang mulai kasi naik bendera Belanda atau bendera Jerman, atau bendera negara-negara yang akan bertarung di piala dunia bulan Juni.Di Papau juga sama deng di tempat-tempat di berbagai negara yang memiliki penggemar, atau mobil angkot di Jakarta yang pasang bendera negara-negara lain. Trada soal tooo?Tapi jang bilang suda, kemarin di Fakfak dong kasi naik bendera Belanda, satu trek datang cek baru kasi turun bendera.

Sama seperti piala Eropa beberapa tahun yang lalu. Paitua satu de ada kasi naik bendera Belanda. Tra lama begini satu trek datang cek dan kasi turun bendera, setelah dong pigi Paitua de emosi sampeee de batariak, “Wooooi untung kam yag datang banyak bawa alat, kalo kam satu orang yang datang, kam tada sa pu ludah pinang ni suda!!!”

@Pintu-Pagi-070514

  • Andy Tagihuma lahir dan besar di Papua dari kedua orang tua asal Sabu. Ayahnya adalah salah satu dari 50-an orang guru dari Timor yang tergabung Guru Task Force yang diminta GKI Papua di tahun 1970 untuk sekolah-sekolah Yayasan Pendidikan Kristen (YPK). Andy lahir dan besar di Papua, sempat mengikuti pendidikan SD kelas 1 di Kupang saat mengikuti orang tuanya liburan ke Kupang. Kakeknya adalah seorang guru di sabu dan baru meninggal minggu lalu dalam usia 97 tahun. Tulisan ini sebelumnya dimuat di KO’ SAPA (Komunitas Sastra Papua) dengan seizin penulis dimuat kembali di Satutimor.com.

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s