Analisis Berita

Hambatan Pengembangan Sapi di NTT bukan semata iklim

Image

Penggembalaan sapi di Sumba Timur [Foto: Yosep Seran-Mau]

Satutimor.com

PULAU Sumba sangat potensial dalam pengembangan peternakan sapi. Kesadaran ini didasarkan pada luasnya wilayah potensial penggembalaan sapi. Dalam konteks perubahan iklim, jumlah luas wilayah potensial sangat mungkin berkurang karena ancaman kekeringan akibat menurunnya curah hujan di beberapa wilayah di Sumba.

Salah satu sumber air bagi hewan dan manusia adalah wilayah-wilayah cekungan yang menjadi sumber jebakan air alamiah. Studi IRGSC tentang ancaman perubahan iklim atas pertanian dan peternakan di Sumba menunjukan minimnya informasi terkait perilaku iklim dan dampaknya pada sistim penggembalaan peternakan di Sumba yang berbasis savanah.

Hal ini belum lagi terkait minimnya skenario menghadapi masalah-masalah sosial yang kronik terkait ketakutan masyarakat dalam memelihara sapi dan lembu.

Wawancara Satutimor.com dengan Iba, seorang peternak, petani dan juga guru di Loura, Sumba Barat Daya mengungkapkan bahwa sapi merupakan aset yang kerap menjadi target kawanan pencuri. Mertua Iba pernah kehilangan sebelas ekor sapi beberapa tahun lalu. Akibatnya Iba memutuskan menjual sapinya karena takut kehilangan aset tersebut.  Menurut Iba, tetangga-tetangganya pun melakukan hal yang sama.

Walaupun demikian Iba mengakui Sumba bagian barat sangat potensial untuk mengembangkan ternak sapi. Ia mengusulkan sejumlah hal yang patut dipertimbangkan.

“Beta sebagai masyarakat awam sonde tahu bagaimana bapak-bapak akademisi akan memulai diskusi tentang sapi, tapi ada beberapa hal yang mungkin perlu dibicarakan dalam diskusi: Pertama, dewasa ini pemilik sapi di Sumba bagian barat hanya segelintir pengusaha atau tuan tanah. Ada sedikit anggota masyarakat yang menjadi gembala dengan sistem upah yang tidak memberi dampak positif pada peningkatan ekonomi gembala.”

“Kedua, kematian ternak masih terjadi setiap tahun dan masyarakat menerima hal itu sebagai kejadian alam biasa,” kata Iba.  “Ketiga, tidak adanya jaminan keamanan adalah salah satu alasan yang boleh jadi merupakan alasan utama mengapa masyarakat kecil di Sumba bagian barat tidak bisa atau tidak mau lagi memelihara sapi.”

Pengakuan Iba menunjukkan bahwa sangat mungkin masalah  mendesak bagi masyarakat bukanlah masalah kurang air maupun iklim maupun pakan serta ladang penggembalaan. Masalah utamanya adalah keyakinan akan keamanan.

Terobosan yang perlu adalah bagaimana menciptakan mekanisme sosial di mana masyarakat mendapatkan tingkat keyakinan yang tinggi atas keamanan aset bergerak seperti sapi. Pencurian memiliki akar yang bertalian dengan kemiskinan dan dinamika relasi kelompok.

Masalahnya adalah terobosan kebudayaan dan terobosan ekonomi untuk mengatasi pencurian sapi belum nampak. Masyarakatpun pasrah. Sedangkan strategi pengembangan peternakan masih sekedar perhitungan-perhitungan di atas kertas tanpa disertai peta jalan yang menjawab masalah-masalah sosial di atas. [DAL/Kupang]

2 thoughts on “Hambatan Pengembangan Sapi di NTT bukan semata iklim

  1. Hambatan peternakan sapi NTT menurut saya disamping faktor alam dan sosial politik khususnya di Sumba juga akibat dari sistem peternakan yang masih mengandalkan pengasihan alam berupa rumput savana. Sehingga pola yang tradisional itu yang perlu dirobah. Saya pernah mendengar cerita orang Australia pernah berternak sapi di Daerah Savana Tanjung Bastian TTU dan Dia hanya menggunakan kuda untuk mengawasi sapi-sapinya dan jumlah populasi sapi pada waktu itu luar biasa namun karena faktor dukungan Pemda kurang maka akhir ditebak Si Cowboy hengkang dan kembali ke Australia dan hanya meninggalkan bekas tapak kaki sapi dan kuda saja… siapa yang salah…

    Suka

  2. Pdt. Victor Nenohay sedang menulis tesis S2 tentang upaya penanggulangan pencurian sapi di wilayah Pukdale. Karena para pencuri berjejaring (nampaknya termasuk keterlibatan oknum-oknum aparat keamanan), maka para pemilik sapi perlu juga berjejaring. Melalui pendekatan “community organizing”, para pemilik ternak mengatur giliran jaga, melacak jalur pengeluaran daging curian, dan berhasil menangkap beberapa pencuri (sambil merusak mobilnya). Melalui pendekatan ini, terjadi penurunan yang signifikan dalam jumlah pencurian.

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s