Buku

Universitas Leiden dan Studi Keindonesiaan*

IMG_0009_FotorOleh Santi J.N.**

Buku tipis yang berjudul “The Contribution of The University of Leiden to Oriental Research” ini sejatinya merupakan materi kuliah umum yang disampaikan penulisnya, Professor J.Ph. Vogel, C.I.E., Ph.D. pada Royal India and Pakistan Society tanggal 23 uni 1949. Prof. Vogel berbicara sebagai Profesor Emeritus bidang Arkeologi India dan Sansekerta pada Universitas Leiden. Buku ini diterbitkan lima tahun kemudian oleh penerbit E.J. Brill – Leiden.

Andai boleh bermimpi, aku ingin sekali berkesempatan untuk melakukan studi atau setidaknya mengunjungi Leiden sekali saja dalam hidupku. Aku menganggap kota ini memiliki peran penting dalam penggalian dan penelitian sejarah Indonesia, tak terbayang banyaknya literatur kuno tentang sejarah Indonesia di sana. Ah mari berhenti bermimpi dan mulai melakukan kerja nyata (ucapan ini terkesan seperti jargon politisi). Leiden banyak melahirkan peneliti-peneliti terbaik tentang keindonesiaan. Buku ini berusaha menyajikan secara singkat peran mereka beserta karya yang dihasilkan. Darinya kita bisa meneladani keseriusan para peneliti tersebut dalam melakukan studinya sehingga bisa menghasilkan karya-karya monumental yang masih dijadikan referensi utama hingga sekarang.

Universitas Leiden didirikan tahun 1575 oleh William of Orange sebagai penghargaan atas perjuangan penduduk saat perang melawan kerajaan Spanyol. Bandingkan dengan Indonesia yang baru mengenal Perguruan Tinggi pada tahun 1920-an, terdapat gap sejauh 345 tahun ! Melihat ini wajar saja apabila kemajuan penduduk Indonesia ketinggalan jauh dibandingkan bangsa Eropa.

Ketika pertama kali didirikan, universitas ini belum memiliki guru besar. Barulah pada tahun 1591 dipertimbangkan untuk menarik seorang Ilmuan dari Eropa untuk menduduki posisi tersebut, pilihan jatuh kepada Joseph Scaliger (1540-1609). Seorang Perancis dan Protestan yang dianggap sebagai ilmuwan terbaik di jamannya.  Sebuah utusan lantas dikirim Universitas Leiden kepada Henry IV (Raja Perancis) dan sang calon guru besar untuk meminta kerja samanya.  Usaha utusan Leiden untuk menarik Joseph Scaliger akhirnya tercapai dengan kesepakatan yang sangat “memuaskan”. Joseph Scaliger dibebaskan dari ceramah publik, pajak dan sewa rumah. Gajinya disepakati sebagai 1.200 gulden ditambah 800 gulden sebagai gratifikasi. Jumlah yang sangat besar saat itu. Ia akan difungsikan sebagai Ornamen Uneversitas (“Decus Acadmiae“) di Leiden.

Selain menguasai bidang keilmuan Yunani dan Latin, Scaliger memiliki ketertarikan tinggi terhadap studi Arab, namun ia menemukan kesulitan dalam mempelajari bahasanya. Begitu besar minatnya sehingga pada lukisan diri Scaliger yang kini mengisi ruang senat Universitas Leiden, dibuat beberapa waktu menjelang kematiannya, tampak sang guru besar memegang manuskrip berbahasa Arab di tangan kirinya.

IMG_0010Joseph Scaliger sangat mempengaruhi orientasi pendidikan Universitas Leiden sehingga Kurator dan Pimpinan universitas ini segera mencari pengajar studi bahasa Arab dan bahasa Oriental lainnya. Keinginan ini turut dipengaruhi persiapan eksplorasi ekonomi di Hindia Timur.  Pada awalnya sulit sekali mencari kandidat yang layak, hingga kemudian ditunjuklah Thomas Erpenus untuk mengisi kursi tersebut. Pada Februari 1613 ia menyampaikan ceramah inaugurasinya yang berjudul Oratio de lingua Arabica. Menurut Erpenus dalam ceramahnya, bahasa Arab bukanlah bahasa barbar, melainkan bahasa yang sangat kaya, elegan, dan indah. Pengetahuan akan bahasa ini sangat penting karena banyak karya-karya literatur berbahasa Arab di bidang pengobatan, geografi, dan sejarah yang sangat berharga. Erpenus juga yakin bahwa penguasaan bahasa Arab bisa memudahkan misionaris-misionaris untuk menjalankan tugasnya mengkristenisasi umat Muslim. Untuk mendukung studinya, Erpenus menghabiskan 6.000 gulden untuk membeli naskah-naskah Arab.

Hidup Erpenus cukup tragis karena ia meninggal di usia muda (40 tahun) tanggal 13 November 1624 akibat terkena wabah yang melanda Eropa. Studinya dilanjutkan oleh Jacob Golius (1596-1667). Berkat kemajuan studinya, Golius diangkat sebagai Professor bahasa Arab di Leiden. Untuk itu ia menghabiskan satu setengah tahun berkeliling negara-negara timur tengah untuk menyempurnakan keilmuannya. Dari perjalanannya tersebut ia berhasil mengumpulkan 300 naskah berbahasa Arab, Turki, dan Persia.

Dalam waktu 38 tahun berkarir sebagai professor,  Golius menghasilkan banyak karya yang sangat berguna untuk para siswanya.  Karyanya yang monumental adalah Lexicon Arabicum(1654), kamus Persia-Latin, dan Turki-Latin. Adalah berkat Erpenus dan Golius, perpustakaan Leiden bisa menjelma sebagai pemilik koleksi naskah oriental terkaya di seantero Eropa. Penerus-penerus mereka berdua selanjutnya akan sangat banyak mengembangkan studi orientalisme ini, dan yang paling terkenal salah satunya adalah seorang tokoh kontroversial bernama Christiaan Snouck Hurgronje.

IMG_0011Pada tahun 1880 Snouck Hurgronje mengambil studi doktoral di Leiden, usinya baru 23 tahun saat itu. Empat tahun kemudian ia mendampingi konsul Belanda, Mr. J.A. Kruyt di Jeddah (Belanda menempatkan konsul di Jeddah untuk mengawasi Haji asal Indonesia selama di Makkah). Pada tahun 1885 Snouck berhasil memasuki kota suci Mekkah selama lima setengah bulan  dengan menyamar  sebagai Abdul al-Ghaffar.  Hasilnya adalah dua volume buku berjudul Mekka (1888-89), berbahasa Jerman, berisikan keterangan yang sangat akurat tentang keadaan dan penduduk kota suci tersebut.

Karir Snouck dilanjutkan di Hindia Belanda, ia difungsikan sebagai penasihat Gubernur Jenderal terkait kepentingan kolonial.  Dalam tugasnya tersebut ia berhasil membantu Jenderal Van Heutsz dalam memadamkan perjuangan umat Islam di Aceh. Snouck sempat menghasilkan dua karya utama tentang Aceh “De Atjehers”  yang diterbitkan tahun 1893-94.

Sekembalinya ke Leiden tahun 1906, Snouck menghabiskan 30 tahun sisa hidupnya sebagai Professor Studi Arab dan Institusi Islam di Universitas Leiden. Dalam kalangan Orientalis, Snouck dikenal penguasaannya atas keilmuan Islam dan Fiqh. Banyak nasehat-nasehatnya yang menjadi acuan pemerintah Hindia Belanda dalam menggariskan kebijakan terhadap umat Islam di Indonesia (Khusus untuk hal ini akan kubahas di bagian lain saja).

Selain studi berkaitan dunia Islam / Arab, Leiden juga menggarap studi Hindu/Budha yang telah dimulai sejak tahun 1865. Perintisnya adalah Hendrik Kern (1833-1917), seorang guru besar paling utama di bidang linguistik dengan penguasaan banyak bahasa. Ia tidak hanya menggali bahasa Sansekerta dan Pali, melainkan juga Melayu-Polynesia hingga bahasa Jawa Kun0. Karya-karya terbaik H. Kern dimuat dalam 17 volume buku Verspreide Geschriften. 

IMG_0012Penerus H. Kern di bidang Jawa-Kuno dan Indo-Jawa yang cukup terkenal adalah Dr. J.L.A. Brandes (1857-1905).  Brandes-lah yang merintis penelitian arkeologi di Jawa. Karya-karyanya antara lain tentang Candi Jago dan Candi Panataran. Restorasi yang dilakukan Brandes terhadap beberapa candi dalam hal ini sempat dikritik.

Brandes berhasil meyakinkan pemerintah kolonial untuk bertanggung jawab atas proses konservasi dan eksplorasi peninggalan-peninggalan sejarah di Hindia Belanda. Berkatnya pada tahun 1907-1912 Candi Borobudur dipreservasi lewat proyek yang  diawasi oleh Letnan Jenderal van Erp.

Penerus Brandes, Dr. N. J. Krom lantas mengorganisir Survey Arkeologi (Oudheidkundige Dienst) yang meluaskan aktivitasnya tidak hanya di Jawa melainkan di seluruh Nusantara. Departeman ini didirikan berdasarkan keputusan pemerintah tanggal 14 Juni 1913. Dr. Krom duduk sebagai pimpinannya, hingga kemudian digantikan oleh Dr. F.D.K. Bosch.  Keduanya merupakan alumni Universitas Leiden.

Karya-karya Krom yang monumental antara lain Borobudur berupa dua portofolio berisi 442 dokumentasi seluruh situs dengan 1,500 panel yang direproduksi.  Deskripsi ikonografi yang dihasilkan Krom dilanjutkan dengan penjelasan arsitektural yang disusun oleh Van Erp. Dua karya Krom lainnya adalah Introduction to Hindu-Javanase Art (1920) dan Hindu-Javanese History (1926). Karya-karyanya masih menjadi rujukan arkeologi Indonesia hingga saat ini.

Ketika tahun 1919 studi arkeologi dan sejarah kuno Hindia Belanda didirikan di Universitas Leiden, Dr. Krom pun ditunjuk untuk mendudukinya hingga wafatnya tahun 1945.

IMG_0013Mengingat kepentingan Belanda atas pemahaman kondisi Nusantara, keilmuan di bidang inipun mendapat prioritas.  Pada abad ke-17 sebuah Injil berbahasa Melayu mulai dikerjakan oleh Leideker untuk meraih penduduk Kristen di Ambon. Daftar grammar bahasa Jawa dihasilkan pada tahun 1833, sedangkan kamusnya pada tahun 1847. Sebelumnya pada tahun 1823 Injil berbahasa Jawa telah diterbitkan di Serampur.

Sejak tahu 1864 para pejabat sipil yang akan bertugas di Hindia Belanda diharuskan untuk mendapatkan pelatihan di Universitas Leiden. Pada tahun 1876 Universitas Leiden membuka program professor di bidang studi Melayu, Jawa dan Sunda. Inilah sebabnya naskah-naskah penting nusantara lebih banyak dikumpulkan dan dipelajari di Leiden dibandingkan di Indonesia. Sejak itu makin banyak pula lulusan Leiden yang menghasilkan sumbangannya terhadap studi keindonesiaan.

Sebutlah C. van Vollenhoven dengan studi Hukum Adat Indonesianya, J. Knebel dengan studi Sosiologi dan Hukum Adat, F.A. Liefrinck dengan studi etnologi dan hukum adat Bali serta Lombok,  Dr. Jacob Mallinckrodt tentang Kalimantan, Dr. P. V. van Stein Callenfels di  bidang arkeologi, N.H. van de Tuuk dengan studi Batak dan Bali,   Dr. N. Adriani tentang Sulawesi Tengah (Toraja), J. C. G. Jonker tentang Sunda Kecil, G. A. J. Hazeu tentang wayang dan kebudayaan Jawa, Dr. W.F. Stutterheim tentang sastra dan sejarah Jawa, dan banyak lainnya.

Perang dunia dan pergantian rezim di Nusantara menjadi masa yang menyedihkan bagi usaha penyelidikan dan penelitian ilmu pengetahuan keindonesiaan yang dilakukan orang-orang Belanda. Banyak etnologis, arkeolog dan linguis yang ditahan, melakukan kerja paksa, atau bergabung dengan militer. Banyak dari mereka yang dipekerjakan sebagai kuli di Burma atau Jepang. Di antaranya yang meninggal di masa penjajahan Jepang adalah Dr. Sturrerheim (Batavia, September 1942). Nasib malang lain menimpa Dr. S.J Esser dan Dr. W. Kern (Cucu H. Kern) yang berhasil selamat dari kerja paksa selama tiga musim dingin di pusat pembuatan kapal di Nagasaki, ia meninggal ketika melanjutkan studinya di Banjarmasin pada bulan Juni 1946.

Kemerdekaan Indonesia tidak lantas menggiatkan anak negeri untuk melanjutkan usaha para peneliti Belanda yang mendahuluinya sebagaimana dikeluhkan  professor J. Vogel dalam buku ini :

It must be admitted that the number of Indonesians who have taken part in the archaeogical, ethnoraphical and linguistic exploration of their country is surprisingly small. But we may perhaps expect that, as the the Republik of Indonesia has come into existence, talented Indonesians will be forthcoming in sufficient number to carry on the work of research.

Kita mungkin sudah tidak lagi memiliki motif untuk menggali peninggalan sejarah negeri ini sepertihalnya orang-orang Belanda yang ingin menunjukan keberhasilannya menguasai negeri yang kekayaan sejarahnya. Semakin pesimis lagi apalagi apabila bidang keilmuan ini sudah dicampuri urusan-urusan politik : kasus Gunung Padang contohnya. Marilah kita berkaca kepada para peneliti Belanda yang sangat serius itu, kita berbuat yang semaksimal mungkin untuk menggali kekayaan sejarah negeri ini dan memanfaatkannya untuk generasi yang akan datang. [*S*]

* Tulisan ini pertama kali dimuat dalam blog Santi J.N. pada 1 Desember 2014, dimuat kembali oleh Satutimor.com atas seizin penulis. 

** Santi J.N., seorang pencinta buku dan penulis, tinggal di Bandung. 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s