Berita

Warga Muslim terisak melepas sepasang pendeta Kristen

Eddy Mesakh
Satutimor.com/BATAM

PENGUTUSAN (Dari kiri) Pdt November Obhetan S,Th, Pdt Phebye Obhetan Loelan, S.Th, Pdt Fernonika Lay Gella S.Th, Pdt Iwan J Lay, S.Th, dan Pdt Benjamin Naralulu, S.Th, M.Th.

Yang datang dan pergi: dari kiri ke kanan Pdt November Obhetan, Pdt Phebye Obhetan Loelan, Pdt Fernonika Lay Gella, Pdt Iwan J Lay, dan Pdt Benjamin Naralulu.[Foto: courtesy Pdt. Benjamin Naralulu]

Sambil menyeka airmatanya, Sokan Fukalang berujar, “Saya salut! Akui betul-betul kepada keluarga di sini. Kita hidup di Bumi Lancang Kuning tapi tali persaudaraan kita luar biasa. Kalian sudah membuktikan dengan mendirikan gereja ini.” Kembali menyeka airmatanya, lalu Sokan melanjutkan, “jangan bersandiwara dengan toleransi semu. Harus betul-betul dari dalam hati.”

Sokan termasuk sosok yang dituakan oleh masyarakat asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Sagulung, Batam, Kepulauan Riau. Dia adalah abang sepupu Rajab Fukalang, tokoh muslim yang memimpin pembangunan gereja GMIT Effata di Sagulung.

Dalam acara ibadah syukur temu pisah di kediaman Rajab Fukalang, Rabu (11/3/2014) malam, Sokan bersama puluhan umat Islam yang hadir tak kuasa meneteskan airmata ketika melepas kepergian pasangan Pendeta (Pdt) Iwan J Lay dan Pdt Ferorika Y Lay Gella yang akan kembali ke Kota Kupang. Namun mereka menerima Pdt November Obhetan dan Pdt Phebye Obhetan Loelan, dengan sukacita sembari berharap kedua pemimpin jemaat yang baru ini mampu menjalankan tugas sebagaimana pendahulu mereka.

Puluhan warga, baik Islam, Kristen, dan Katolik, menghadiri acara temu pisah yang juga dihadiri Sekretaris Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Pdt Benjamin Naralulu, Haji Rahman, Rajab Fukalang, para tokoh muslim, pemuda Katolik, dan sejumlah Majelis Jemaat GMIT di Batam. Pdt Phebye memimpin kebaktian sementara renungan disampaikan oleh Pdt Benjamin Naralulu.

Melalui renungan singkat dari Kitab Yunus 1:1-17, Pdt Naralulu mengangkat tema “Dipanggil untuk Setia”.  Menurut Pdt Naralulu, Nabi Yunus (Yona: Ibrani) artinya burung merpati sebagai simbol kesetiaan. Tapi Yunus tidak setia dan melarikan diri dari panggilan Allah, sampai dia diingatkan oleh nakhoda kapal yang tidak seiman untuk berseru kepada Allah manakala kapal mereka diserang badai hebat.

Pdt Naralulu mengibaratkan Pulau Batam sebagai sebuah kapal yang sedang berlayar.  Dalam konteks masyarakat di Sagulung, justru Rajab Fukalang bersama tua-tua masyarakat yang notabene penganut Islam, selalu mengingatkan atau menegur jemaat Kristen yang tidak setia untuk aktif beribadah. “Seperti Yunus, jika tidak setia maka kita akan dibuang ke laut. Kapal yang kita tumpangi akan dihempas gelombang kehidupan,” papar Pdt Naralulu yang juga menekankan soal toleransi dan kesetiaan dalam ikatan persaudaraan.

Usai ibadah, para tokoh dan Majelis Jemaat, maju menyampaikan isi hati mereka. Ketua RT 01/RW19 Tanjunguncang, Malae Lapailaul, yang juga seorang muslim, mengatakan, kendati berat hati melepas Pdt Iwan dan Pdt Feronika, namun warga dan jemaat harus rela karena kepindahan keduanya merupakan panggilan tugas dan pelayanan bagi jemaat Tuhan. Malae pun menyatakan bahwa warga dan jemaat GMIT dengan senang hati menerima pasangan pendeta pengganti.

“Saya sedih. Sebenarnya saya tidak mau hadir karena secara pribadi saya menolak kepindahan Pdt Iwan dan Ibu Feni (Feronika, Red). Kami memiliki kedekatan emosional. Itulah yang membuat kami belum siap. Kita bersedih, tapi Tuhanlah yang menentukan, ini rencana Tuhan. Kami berharap kesedihan ini bisa diobati oleh pendeta yang baru,” ujarnya. Dia menambahkan, “Lingkungan ini mayoritas muslim. Ketua Panitia pembangunan gereja Effata seorang muslim, sekretaris (Bapak Syukur) juga muslim, tapi kami membangun ikatan persaudaraan yang kuat, seperti yang juga kami jalani di kampung halaman, di Alor.”

Sokan Fukalang yang maju berikutnya, juga menyatakan berat hati melepas Pdt Iwan dan Pdt Feronika. Dia bahkan terus meneteskan airmata. “Tali persaudaraan kita luar biasa. Ini harus terus kita tingkatkan. Kabar ini sudah sampai ke mana-mana. Jangan bersandiwara dengan toleransi semu. Harus betul-betul dari dalam hati,” ujarnya. Kepada Pdt November dan Pdt Phebye, Sokan berpesan, “Kami menerima Bapak dan Ibu pendeta dengan sebulat hati dan mohon bisa lanjutkan tugas pendeta yang lama. Mari kita bersama umat dan jemaat menyempurnakan apa yang sudah ada sekarang. ”

Dalam pesan dan kesannya, Pdt Iwan mengatakan, “Kami tidak buat apa-apa. Kami hanya omong-omong saja. Semua ini dilakukan oleh bapa-mama sendiri. Bahkan bapa-mana mengerjakan lebih dari yang kami harapkan. Jemaat GMIT di berbagai pelosok telah menikmati kisah persaudaraan di tempat ini. Kami juga mohon dimaafkan apabila selama ini ada yang kurang berkenan, supaya berkurang beban kami ketika harus meninggalkan bapak-ibu sekalian.”

Dia menambahkan, “Selama ini kami senantiasa mendapat banyak kritik dan juga dorongan dari Bapak Haji, Bapak Ketua RT, Bapak Rajab, dan orang tua-tua di sini. Semua itu merupakan bentuk kebersamaan dan semangat kekeluargaan dalam pelayanan. Mohon dukungan terus diberikan kepada kedua pendeta yang menggantikan tugas kami di sini.”

Mewakili Majelis Jemaat, Penatua Semuel Kamaleng yang juga Penanggungjawab Jemaat GMIT Effata, berharap agar persaudaraan yang telah terjalin begitu kuat agar semakin diperkokoh. Juga meminta MS GMIT di Kupang agar semakin memberikan perhatian bagi jemaat di Batam supaya semakin maju dalam pelayanan.

Pdt November Obhetan mengatakan, yang sudah dibangun bersama oleh umat Islam dan jemaat GMIT di Batam harus terus tumbuh dan semakin subur. “Luar biasa! Ini (persaudaraan dan toleransi) hal yang jarang ditemukan di Indonesia. Kami tidak bisa mencabut apa yang sudah ditanam. Kami harus pupuk supaya tumbuh lebih subur. Kami juga datang sebagai keluarga,” ujarnya.

Menutup rangkaian pesan dan kesan, Pdt Benjamin Naralulu mengatakan, “Ketika tiba di sini (Sagulung), saya merasa seperti berada di kampung halaman, bukan seperti di Batam tapi di rumah sendiri. Sinode jauh untuk bisa mengamati apa yang terjadi di sini, tapi ada bapa-mana yang dekat yang menjadi orangtua. Pendeta yang baru juga masih perlu arahan dari jemaat dan umat di Batam. Saya berharap kedua pengganti ini mampu melayani dengan baik sehingga tidak dipandang sebagai ‘pendeta baru’, tetapi ‘ini baru pendeta’.”

Soal praktik toleransi dan persaudaraan, Pdt Naralulu berujar, “Saya menemukan toleransi yang murni di sini. Negara ini menghabiskan biaya bermilyar-milyar untuk mengampanyekan toleransi antar umat beragama, tapi lihat hasilnya, intoleransi terjadi di mana-mana. Justru tanpa mengeluarkan satu sen pun, warga dan jemaat asal NTT di Sagulung berhasil mempraktikkan toleransi tanpa syarat. Ini sebuah cerita yang indah bagi seluruh warga GMIT.”

Menurut dia, kendati berbeda iman, warga NTT di Batam berhasil mempertahankan persaudaraan dan kebersamaan. “Lebih baik tidur berbeda tapi punya mimpi yang sama, daripada tidur bersama tapi punya mimpi berbeda,” tutup dia. (*) 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s