Analisis

Kemunculan Buaya Pertanda Bahaya Iklim dan Ekologis Yang Lebih Besar

[Foto: Matheos Messakh]

[Foto: Matheos Messakh]

PENGANTAR REDAKSI: Akhir-akhir ini di perairan kota Kupang dan sekitarnya sangat sering muncul buaya. Bahkan telah beberapa kali reptil besar ini menimbulkan korban jiwa manusia. Baru tanggal 19 Februari lalu Kupang dikejutkan dengan buaya yang memakan anak berusia 13 tahun di pulau Semau. Di Timor-Leste seorang pelaku sejarah Timor-Leste juga meninggal pada 21 Februari setelah sebelumnya diterkam buaya di Sungai Iralalaro, Lospalos. Apakah meningkatnya frekwensi kemunculan buaya ini suatu kewajaran? Randy Banunaek dan John Petrus Talan dari IRGSC-Kupang mencoba mengurai gejala dibalik peningkatan frekwensi kemunculan buaya di kota Kupang ini.

Oleh Randy Banunaek dan John Petrus Talan*

Setelah musnahnya dinosaurus, buaya adalah reptile yang terbukti sangat adaptif dan bertahan selama dua ratus  juta tahun terakhir. Daya tahannya mengagumkan karena mampu hidup di alam yang ekstrim dan keras. Namun perubahan ekologi akibat penggunaan massif pestisida maupun perubahan iklim yang ekstrim, mungkin saja membuat perilaku buaya berubah yang dapat menjadi alat peringatan bagi manusia bahwa bahaya yang lebih besar sedang mengancam.

Hamish Campbell (University of Queensland, Australia) mengatakan bahwa meningkatnya suhu pantai dapat membuat buaya keluar dari habitatnya. Pengetahuan ini menjadi kebijakan publik di Australia sebagaimana dikutip oleh Great Barrier Reef and Marine Park Authority (Dinas Taman Laut Australia).

Di Timor Barat dan Kota Kupang, setahun terakhir, kemunculan buaya di sekitar pemukiman masyarakat hingga menyerang manusia cukup sering terjadi. Cukup banyaknya kejadian ini menumbulkan keresahan sekaligus pertanyaan, berita apa yang hendak disampaikan melalui kemuculan predator berdarah dingin ini. Ada beberapa dimensi persoalan dalam peristiwa ini. Pertama, buaya dilihat sebagai obyek pembawa bencana dimana sebab dari peristiwa belum diketahui dan bentuk respon yang rasional pun belum diurai. Lemahnya institusi ilmu dan ketiadaan spesialis buaya (ahli reptil), membuat kepanikan dihadapi secara tradisional yakni mengeliminir obyek bencana (buaya) sebagai respon cepat terhadap resiko yang dihadapi.

Sebelumnya, narasi buaya di NTT biasanya dicirikan oleh dua hal. Pertama soal populasi buaya di daerah-daerah delta atau muara di NTT, sebagai misal di Timor terkait buaya di Delta Bena (Pantai Selatan) maupun daerah delta atau muara Sungai Benenain di Besikama. Paska banjir Malaka Barat 2011, di Desa Umatoos dan sekitarnya, banyak buaya bersarang dan bertelur di rumah-rumah yang ditinggalkan karena banjir, namun jarang menjadi berita soal kematian warga akibat buaya di daerah-daerah delta. Salah satu hipotesis adalah karena masyarakat di daerah itu cukup cerdas hidup bersama buaya.

Narasi buaya yang kedua adalah narasi korupsi oleh aparat Negara. Karena selalu tidak puas dan merasa lapar, uang rakyat dirampok namun pelayanan publik diabaikan dan proteksi atas keamanan rakyat direnggut ke titik nadir. Singkatnya keduanya yakni buaya dan ‘buaya’ perlu sama-sama diurusi dengan syarat munculnya negara yang responsive maupun masyarakat yang mampu mengelolah kepanikan.

Kepanikan Dan Respon Magis

Puncaknya adalah serangan terhadap manusia dan mengakibatkan korban jiwa yang cukup banyak. Yang paling akhir kegemparan peristiwa serangan buaya dan membunuh pelajar SD di Pulau Semau. Muncul Respon alamiah masyarakat dengan memburu dan membunuh buaya pemangsa untuk mengambil jasad korban yang selanjutnya dimakamkan bersama buaya pemangsa.

Ancaman buaya ini direspon dengan text book pengelolaan bencana klasik. Solusi sesaat adalah counteragresi dan perang atas buaya. Dalam kasus yang terakhir, setelah korban terbunuh, ratusan warga kampung memburu buaya pemangsa dan berakhir dengan penyembelihan. Sebuah pola respon bencana yang sedang berlangsung.

Biasanya, respon klasik semacam ini disebabkan oleh adanya pengetahuan yang beredar dalam masyarakat bahwa ketika seekor buaya pernah memangsa manusia, maka ada kemungkinan untuk kembali berulang. Selain sebagai penghormatan atas korban, jenasahnya harus ditemukan dan dimakamkan. Mereka menembus mitologi setempat tentang relasi manusia setempat dengan buaya yang dihormati.

Akar Masalah Buaya

Literatur terkait studi konflik buaya dan manusia, serta kemunculan dan agresi  buaya di wilayah yang bukan habitatnya, sering menggali isi soal gangguan terhadap habitatnya. Ekspansi  pertambangan, pembukaan lahan dan degradasi lingkungan dapat berkorelasi dengan keseimbangan ekosistem yang menjadi habitat buaya. Partners in Amphibian and Reptile Conservation (PARC) mengkaji kemungkinan yang menyebabkan penurunan jumlah reptil dan amfibi,  menemukan enam faktor yakni degradasi dan hilangnya habitat, serangan spesies baru, pencemaran lingkungan, penyakit dan parasit, penggunaan yang tidak berkelanjutan, dan perubahan iklim global (Gibbons and Stangel: 1999).

Masifnya penggunaan pestisida di daerah delta sekitar Kota dan Kabupaten Kupang, mungkin saja menjadi penyebab antropogenik (factor manusia) membuat buaya bereaksi dan  seharusnya sekaligus menjadi peringatan dini atas keamanan pangan (food safety) masyarakat Kota Kupang.

Sayangnya, ketiadaan studi reptile dan ketiadaan pemahaman yang utuh atas reptil, iklim, ekologis dan kebijakan publik, maka buaya-buaya yang dibunuh sebagai balas dendam. Rasionalitas pemerintah yang masih bersifat magis dan naïf, membuat kesempatan memahami  tanda peringatan bahaya yang lebih luas menjadi hilang.

Serangan buaya terhadap manusia yang terjadi belakangan di NTT menjadi agenda respon yang harus dilakukan oleh pemerintah. Konflik buaya bukan hal baru, namun baru secara masif terjadi belakangan ini.

Maka studi perlu dilakukan untuk mengenali karakteristik yang berhubungan dengan perilaku agresif buaya. Respon dini perlu dilakukan tidak saja setelah terjadi serangan terhadap manusia oleh buaya. Sebaliknya, pemetaan daerah-daerah habitat buaya perlu dideteksi dan peringatan dini sudah harus segera dilakukan bahkan sejak pertama kali buaya muncul di sekitar wilayah pemukiman. Daerah jelajah buaya pun harus dipetakan. Sekaligus membangun skenario yang menjadi inventaris pemerintah dalam melakukan penanganan

Masyarakat di daerah-daerah delta seperti Besikama dan Bena seringkali sukses hidup bersama buaya. Di daerah-daerah delta yang masih bersifat pedesaan dengan tingkat penggunaan pestisida dan pencemaran yang rendah, biasanya buaya-buaya tetap tinggal dalam habitatnya.

Sebaliknya, kemunculan buaya-buaya seperti di Pantai Lasiana, sangat mungkin terkait dengan masifnya penggunaan pestisida dari daerah-daerah pertanian. Sungai kemudian membawanya ke muara dan buaya pun tidak mampu lagi menghadapinya. Studi sistematis terkait habitat buaya penting dan urgen.

Tulisan ini tidak menyarankan sebuah agresi pentungan dan senapan dalam menghancurkan habitat buaya. Sebaliknya, tulisan ini menyarankan agar pemerintah dan masyarakat membuka mata atas pesan yang datang dari kemunculan buaya. Ada resiko dalam mata rantai makanan manusia yang mungkin lebih besar dan sedang terjadi. Sekaligus mengajak Para Rektor dan Pemerintah untuk melakukan tindakan response yang lebih rasional.

Solusi membangun daerah konservasi buaya dan reptile lainnya sangat disarankan. Buaya dapat menjadi aset yang berharga bagi pariwisata-pariwisata Kota. Buaya secara ekologis dapat membantu manusia tentang bahaya ekologis yang mengancam.

Ancaman buaya tidak harus ditanggapi dengan eliminasi total buaya. Kota Kupang dapat menjadi pusat studi buaya yang dikombinasikan dengan pariwisata. Kami  bermimpi anak-anak Timor yang kemudian berkomitment menjadi ilmuan yang pemahamannya tentang buaya mampu mengantarkan daerah ini keluar dari jebakan kemiskinan, ancaman perubahan iklim serta tata kelola pariwisata berbasis ekologi dan konservasi menuju Kupang dan Kota Kupang yang Green and Clean bukan sekedar slogan kosong nan magis.[S]

* Randy Banunaek dan John Petrus Talan adalah Peneliti di IRGSC-Kupang

One thought on “Kemunculan Buaya Pertanda Bahaya Iklim dan Ekologis Yang Lebih Besar

  1. Tulisan yang sangat menarik, mendidik, dan mendorong langkah lanjutan. Makasih kepada kedua penulis, teman kami Randy dan John.

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s