Berita

Xanana Memerintahkan Penangkapan Mauk Moruk

Xanana menunjukkan foto anggota kelompok Mauk Moruk yang mengenakan seragam mirip Kopassus. [Sumber; Tempo Semanal]

Xanana menunjukkan foto anggota kelompok Mauk Moruk yang mengenakan seragam mirip Kopassus. [Sumber; Tempo Semanal]

Matheos Messakh & Theny Panie

Satutimor.com/WAINGAPU dan KUPANG

Perdana Menteri Timor-Leste Kay Rala Xanana Gusmão memerintahkan penangkapan terhadap komandan Konsellu Revolusaun Maubere (KRM) Paulino Gama ‘Mauk Moruk’ dan kelompok Conselho Popular Democratiku-RDTL (CPD-RDTL ) yang dipimpin Antonio Aitahan Matak.

Xanana  menganggap aksi-aksi kelompok Mauk Moruk dan CPD-RDTL sudah keterlaluan terlebih karena mereka melakukan ancaman terhadap masyarakat. 

Xanana ingin menjalankan sebuah operasi dan melucuti kelompok yang menggunakan atribut militer mirip pasukan khusus Indonesia, Kopasus.

“Saya memberikan peringatan kepada kalian yang masih menggunakan seragam militer untuk menyerahkan diri. Kalau tidak saya pergi dan kita berjabat tangan, kalian lari ke gunung, lalu peluru yang akan melihat kalian,” kata Xanana seperti dikutip media Tempo Semanal.

Xanana mengungkapkan hal ini saat berdiskusi di Parlemen Nasional Timor Leste, Senin (3/3).

“Kepada CPD-RD TL. saat ini sebagai panglima tertinggi tidak memberi toleransi, karna kalian memakai baret merah untak apa?” kata Xanana. “CPD juga membuat bendera seperti kekerasan konstitusi 1975, yang mana kalian belum membacanya… saya melihat Antonio Aitahan Matak juga menggunakan baret merah. Pada saat jaman penjajahan, saat kami di hutan saya tidak melihat dia menggunakan baret merah. Tapi tiba-tiba saja Aitahan Matak menjadi tentara tiga bulan juga, dan Egas sudah menjadi kolonel,” kata Xanana.

Xanana yang  juga merangkap jabatan sebagai Mentri Pertahanan ini memerintahkan menangkap kelompok ini jika mereka tidak menyerahkan diri. Ia juga meminta rakyat Timor-Leste  agar tidak mengikuti gerakan separatis tersebut, sebab Mauk Moruk itu baru datang dari luar negeri (Belanda) dan tidak paham perjuangan rakyat Timor-Leste selama ini.

“Kepada kalian CPD-RDTL, sebagai Menteri Pertahanan saya katakan tidak ada toleransi buat kalian, walaupun kalian menggunakan baret merah akan saya copot. Saya akan tetap mencari kalian, dan ingin memastikan baret merah kalian itu ditulis dengan apa,” kata Xanana.

Paulino Gama adalah salah satu komandan Falintil yang menyerahkan diri kepada TNI di tahun 1985 dan setelah itu menetap di Belanda. Mantan gerilyawan dengan nom de guerre Mauk Moruk ini terlibat konflik terbuka dengan Xanana Gusmao mulai akhir tahun lalu. Ia bahkan menantang Xanana berdebat namun kemudian tantangan debat yang telah diterima Xanana dan dijadwalkan pada 11 November 2013 itu tidak terjadi karena Gama tidak hadir dengan alasan ia tidak setuju dengan moderator debat yaitu Presiden Timor Leste, Taur Matan Ruak.

Konflik terbuka antara Mauk Moruk dan Xanana muncul ke publik, setelah Mauk Moruk berbicara keras dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Universita Nasonal Timor-Leste (UNTL) di kampus UNTL, Dili di bulan Oktober 2013.

Dalam orasinya, Mauk Moruk mengajak rakyat Timor-Leste untuk melakukan revolusi melawan pemerintahan Xanana Gusmao, karena tidak membawa kesejahteraan bagi rakyat. Bahkan, Mauk Moruk mengatakan, selama di hutan Xanana adalah anak buahnya. “ Dia (Xanana) belajar perang dan revolusi dari saya,” kata Mauk Moruk seperti dikutip Timoroman.com.

Pernyataan inilah yang membuat Gusmao berang. “Mauk Moruk menyerahkan diri sudah lama. Dia membantu TNI menyerang para gerilyawan. Mauk Moruk juga yang menjadi penunjuk jalan bagi pembunuhan Komandan David Alex oleh TNI tahun 1998,” kata Xanana.

Paulino Gama adalah salah satu anggota Komite Sentral Fretilin yang diangkat Xanana. Ia juga adalah Komandan Brigade Merah (Brigada Vermelha) Falintil yang menyerahkan diri kepada Komandan Widya Sugito di tahun 1985.[1]

Gama bersama penganut garis keras Fretilin lainnya seperti Kepala Staf Falintil Kilik Wae Gae menentang perubahan politik partai ke arah sikap yang lebih moderat di tahun 1984. [lihat: Siapa sebenarnya Mau Moruk?]. Di tahun ini Fretilin menanggalkan ideologi Marxis-Leninis yang telah dideklarasikan pada tahun 1977 dan disertakan ke dalam nama partai itu pada tahun 1981. Dengan tindakan ini, Fretilin mencabut basis sosial-revolusioner dari sikapnya terdahulu demi mendukung sebuah platform nasionalis yang lebih terbuka.

Kelompok garus keras seperti Kilik Wae Gae dan Moruk menganggap perubahan ini sebagai suatu kompromi yang tak bisa diterima. Mereka mengadakan sebuah percobaan kudeta terhadap kelompok Xanana namun gagal. Xanana waktu itu adalah Komisaris Politik Nasional PMLF, Panglima Besar Falintil dan Presiden Dewan Revolusioner Perlawanan Nasional  (CRRN), sebuah dewan yang menjadi forum payung bagi semua elemen pro-kemerdekaan, bukan hanya Fretilin, dan merupakan langkah signifikan untuk menjauh dari kebijakan garis keras tahun 1977. [S]


[1] Lihat Paulino Gama (Mauk Muruk [sic]), ‘The War in the Hills: A Fretilin Commander Remembers/7 in East Timor at the Crossroads: The Forging of a Nation, ed. Peter Carey and G. Carter Bentley (London: Cassell, 1995), h. 97-105.

2 thoughts on “Xanana Memerintahkan Penangkapan Mauk Moruk

  1. dk liu husu ba povu timor tomak rona dt ba iha ulun bt nasaun ida ne ninian, nomos ba iha ema nebe mak terus hamutuk ho ita iha timor laos rona fali ema nebe mk fan rai timor, no kontra fali ita nia Falintil uluk okeeeeeeee

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s