Berita

Museum NTT bersihkan koleksi rusak dengan biaya patungan pegawai

Matheos Messakh
Satutimor.com/KUPANG

[courtesy Museum NTT]

“Memalukan” kata kepala Museum NTT. [courtesy Museum NTT]

Salah satu koleksi masterpiece Museum Negeri Kupang yaitu kerangka mamalia paus dirusak oleh para pengunjung vandalis sudah dibersihkan oleh petugas museum dengan biaya patungan para pegawai. Namun jika terjadi lagi maka para petugas museum tak tahu lagi bagaimana memperbaikinya.

Sempai awal tahun ini hampir seluruh rangka dipenuhi oleh coret-coretan yang dibuat oleh para pengunjung  dengan menggunakan ballpoint, spidol, type-x bahkan ada tulisan yang menggunakan cat.

Pihak museum kemudian berupaya membersihkan dengan segala upaya teknis dan per tanggal 19 Februari hampir semua tulisan sudah bisa dibersihkan, namun tentu saja tidak bisa sempurna sebagaimana sebelumnya.

“Sudah bersih, setelah kami konsultasi sampai ke Bandung, dan dengan bantuan staf kami sudah bersih kembali,” kata kepala Museum NTT Leonardus Nahak ketika dihubungi Satutimor.com Selasa (4/3).

Nahak mengakui bahwa kerusakan paling ekstrim terjadi pada kerangka paus. “Terus terang sangat memalukan melihat koleksi museum dicoret-coret,” kata Nahak. “Kami mengakui penjagaan obyek-obyek budaya ini menjadi penting.”

Ketiadaan Dana dan Ahli

Kepala Koleksi Museum Rosalia Idam membenarkan telah bersihnya koleksi kerangka paus. “Sudah bersih sekitar 95 persen, namun ada tinta-tinta yang telah merembes ke tulang sulit dibersihkan,” katanya Selasa. Menurutnya upaya perbaikan terhadap koleksi yang rusak dilakukan dengan inisiatif sendiri, dengan pengetahuan yang terbatas dari petugas museum dan bahkan dengan biaya patungan dari para pegawai.

Museu7

Petugas sedang membersihkan rangka paus dari coret-coretan pengunjung. [courtesy: Museum NTT]

Museu8

“Memalukan”, kata Kepala Museum. [courtesy: Museum NTT]

Museu13

Petugas sedang membersihkan rangka paus dari coret-coretan pengunjung. [courtesy: Museum NTT]

“Sudah lima tahun ini Museum NTT tidak mendapat dana APBD ataupun APBN sehingga apa yang kami lakukan hanya pencegahan-pencegahan saja. Sebatas bersih-bersih debu dan serangga misalnya,” kata Rosalia Idam, kepala seksi pengkajian dan penyelematan koleksi Museum NTT.

“Kami tidak punya petugas khusus konservasi yang mengerti kimia, biologi jadi yang kami lakukan sebisa mungkin menggunakan bahan non-kimia dan mencari-cari informasi di internet.”

Jumlah koleksi Museum NTT saat ini adalah 7.306 buah. Menurut Rosalia, jumlah tersebut sudah termasuk koleksi yang rusak yang berjumlah sekitar 100-an buah. “Kami memang dalam tahap reinventarisasi jadi kami memisahkan koleksi yang rusak. Jika menurut analisis petugas konservasi sebuah koleksi bisa diperbaiki, kami akan perbaiki. Tapi kalau tidak terpaksa kami membuat berita acara pemusnahan atau disimpan di gudang saja.”

Upaya Pembersihan

Menurut Lely Taolin, mantan staf seksi pengkajian dan penyelematan koleksi, semua upaya pembersihan kerangka paus dilakukan dengan inisiatif sendiri, tanpa petunjuk atau pengetahuan dasar apa-apa. Lely bersama dua rekan kerjanya Kristoforus Da Santo dan Siprianus Feto yang sebelumnya telah melaporkan kasus ini pada tanggal 27 Januari 2014 juga mengusulkan sejumlah tindakan pemulihan.

Museu4

Vandalisme di jantung Museum. [courtesy: Museum NTT]

Museu5

[courtesy Museum NTT]

Berupaya sebisa mungkin. [courtesy: Museum NTT]

Museu6

Memprihantinkan. [courtesy:Museum NTT]

Mereka mencari cara membersihkan, mencari bahan yang ramah fosil sendiri, bahkan sampai dengan membeli gembok sendiri untuk mengunci ruangan rangka paus karena walaupun sudah ditempel pengumuman larangan untuk pengunjung, tetap saja ada yang memaksa masuk.

“Bahan yang kami gunakan untuk membersihkan ini hanya bermodal mencari informasi di internet. Awalnya kami mencoba garam dan jeruk nipis digosok dengan kapas. Hasilnya coret-coretan itu hanya sedikit berkurang,” kata Lely.

“Akhirnya kami  menggunakan sikat besi dan alkohol. Memang bekas coretan hilang tapi sebenarnya malah kami menghilangkan tekstur pada tulang. Makanya sekarang harus dijaga agar jangan sampai ada coretan lagi, karena kalau ada, tidak bisa lagi dibersihkan dengan sikat dan alkohol. Tulang yang awalnya bertekstur, sekarang sudah halus. Kalau ada coretan lagi, kami tidak tahu bagaimana memperbaikinya,” kata Lely yang sudah seminggu ini pindah ke UPT Bahasa, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Lely juga membenarkan ketiadaan dana. “Setahu saya, sudah 5 tahun atau mungkin lebih tidak ada alokasi dana untuk perawatan. Kalau untuk kasus rangka paus ini, uang pembelian bahan semua dari saku pribadi Ibu Kepala Koleksi, Dra. Rosalia Idam. Kalau tenaga konservator handal kami memang tidak punya,” kata Lely.

Menurut Lely tingkat kerusakan terparah adalah pada bagian rangka sirip di mana hampir tidak ada bagian yang lolos dari tulisan. Tulisan-tulisan tersebut ditemukan tidak hanya di bagian luar tapi juga bagian dalam rangka. “Selain tulisan, kerusakan juga disebabkan oleh serangga, kotoran cicak dan pelapukan,” katanya.

“Pada rangka bagian depan atas bahkan terjadi pelapukan. Bagian rangka tersebut sangat berongga dan ukuran rongganya besar dibandingkan bagian rangka yang lain. Hal ini membuat rangka menjadi rawan dan rentan pelapukan.”

Penyebab dan Pencegahan selanjutnya

Kepala museum Leonardus Nahak mengatakan, coret-coretan ini kemungkinan terjadi karena sikap vandalis para pengunjung, terutama pengunjung remaja. “Memang kadang-kadang pengunjung membludak, jadi vandalisme ini perlu kita angkat,” katanya.

Museu15 Bersih

Rangka Paus yang sudah bersih. [Courtesy: Museum NTT]

Museu3

Para petugas hampir selesai membersihkan rangka Paus [Coutesy: Museum NTT]

Pihak museum mengakui kelalaian petugasnya yang tidak serius mengawasi pengunjung. Pengunjung dibiarkan masuk dengan membawa peralatan tulis sehingga tanpa sepengetahuan pemandu, pengunjung dapat mencoret rangka mamalia paus dengan bebas. Adanya sejumlah tulisan di bagian bawah rangka perut paus menunjukkan bahwa pengunjung begitu leluasa menulis mengingat jarak batas pengunjung dan bagian rangka perut cukup jauh. Jika hendak menulis, maka pengunjung harus masuk melewati pagar pembatas, kemudian tiarap untuk sampai pada posisi yang ditulis.

Untuk tindakan pencegahan selanjutnya Nahak mengatakan perlu dibuat kaca pengaman di sekeliling koleksi paus ini. “Kalau sekarang, orang jalan lalu-lalang saja sudah tersentuh.”

Selain itu ia mengatakan dibutuhkan pengawasan khusus terutama jika jumlah pengunjung bertambah dan terutama dengan kehadiran pengunjung kaum muda. “Kami percaya kalau bule tidak mungkin coret tapi kalau anak-anak muda kita jatuh cinta di Belu sana tulis nama pacar di Kupang sini.”

Rosalia Idam pun mengakui kelalaian petugas dalam kerusakan koleksi museum, namun ia secara khusus menyalahkan konservator sebelumnya. “Kami mengakui kerusakan-kerusakan ini disebabkan oleh kesalahan konservasi (petugas-petugas) pendahulu kami,” katanya.

Menurut Lely Taolin, kerusakan koleksi museum ini seringkali tidak dapat diidentifikasi. Dalam sebuah kasus tahun lalu sebuah koleksi museum yaitu batu tulis ditemukan dalam keadaan patah.

Petugas sedang membersihkan rangka paus dari coret-coretan pengunjung. [courtesy: Museum NTT]

Petugas sedang membersihkan rangka paus dari coret-coretan pengunjung. [courtesy: Museum NTT]

“Penanggunjawab ruangan yang dikonfirmasi menjawab mereka tidak tahu bahwa ada kerusakan. Sampai sekarang batu tulit tersebut tidak diketahui sebab kerusakannya, dan sudah ditarik dari ruang pameran untuk disimpan kembali di gudang koleksi,” kata Lely.

Ketidakjelasan penanganan koleksi ini menyebabkan jumlah koleksi museumpun berubah-ubah. Mantan Kepala seksi koleksi, Merry Zinulingga, menyatakan dalam arsipnya bahwa jumlah koleksi sebanyak 6.149 buah termasuk koleksi yang berada di luar yaitu yang dipinjam untuk pameran nasional.

“Namun baru-baru ini kami mengadakan perhitungan kasar saja fisik koleksi yang nampak di gudang dan diruang pameran, hasilnya menurut perhitungan kasar sebanyak 7.460 buah, dan berdasarkan buku 7.306 buah.”

Lely juga membenarkan faktor kesalahan petugas museum. “Ada juga faktor ketidak hati-hatian dari konservator sebelumnya terhadap koleksi seperti keramik yang banyak retakan bahkan sudah pecah karena saat pembersihan gudang, koleksi-koleksi itu kami temukan tersembunyi di rak penyimpanan paling atas dan tidak ada laporan kerusakan benda tersebut.” [S]

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s