Heritage

Ada 3000 benda dan artefak dari NTT di Museum Volkenkunde Leiden

Sendal dari daun lontar atau "Tabeis" tahun 1959 [Sumber: Digital Database Volkenkunde Museum]

Sendal dari daun lontar atau “Tabu eis” tahun 1959 [Sumber: Digital Database Volkenkunde Museum]

MATHEOS MESSAKH
WAINGAPU,SUMBA TIMUR

Anda ingin melihat Tiilangga yang sudah dibuat ratusan tahun yang banyak berbeda dari evolusi tiilangga dewasa ini? Atau anda ingin melihat selimut Rote, Timor, Flores atau Sumba yang sudah dibuat ratusan tahun lalu sehingga mungkin tidak bisa didapati lagi dewasa ini? Atau mungkin anda ingin tahu apa saja mainan anak-anak di kampung-kampung di NTT jaman dahulu?

Anda perlu mencarinya ke Kota Leiden, tepatnya di Museum Nasional Etnology atau  Rijksmuseum Volkenkunde. Rijksmuseum Volkenkunde di Leiden Negeri Belanda adalah salah satu museum yang menyimpan koleksi etnis terlengkap di dunia. Di sana anda bisa mendaptkan benda-benda berupa pedang, pisau, sandal dari daun lontar, ikat pinggang kulit, mainan anak tradisional, payung dari daun lontar, penjepit  mayang lontar, ataupun topi Tiilangga.

volken2-Fanpage

Museum Volkenkunde di Leiden. [Foto: Fan Page Volkenkunde Museum]

Total jumlah koleksi Museum Volkenkunde adalah 200,000 benda dan 500,000 gambar dan multimedia dan 40,000 buku.

Koleksi benda dan artefak yang dirawat secara luar biasa ini berasal antara lain dari Afrika, China, Indonesia, Jepang, Korea, Amerika Latin, Amerika Utara, Oecania dan Asia. Dalam pengembangan koleksinya museum ini telah memberi perhatian yang besar untuk mendapatkan bahan-bahan yang menggambarkan perkembangan historis sejarah dunia, namun asal mula koleksi museum ini berawal dari bahan-bahan yang didapatkan ketika Jepang secara resmi menutup diri terhadap dunia luar, dan hanya membuka diri lewat sebuah pulau kecil di teluk Nagasaki, Desima.

Mainan anak dari biji mangga. [Sumber: Digital Database Volkenkunde Museum]

Mainan anak dari biji mangga. [Sumber: Digital Database Volkenkunde Museum]

Jumlah koleksi dari Indonesia yang tersimpan di museum ini adalah 79.863 buah.  Sebanyak 3.329 benda berasal dari Bali, 13.685 dari Jawa, 5.931 dari Kalimantan, 5.453 dari Maluku, 1.005 dari NTB, dan 3.046 dari NTT.

Sebuah haik yang berasal dari Rote dibuat tahun 1837. [Sumber: Digital Database Volkenkunde Museum]

Sebuah haik yang berasal dari Rote dibuat tahun 1837. [Sumber: Digital Database Volkenkunde Museum]

Koleksi dari NTT ini terbagi atas 171 benda dari Alor, 1318 dari Flores, 429 dari Sumba, dan 1.051 dari Timor. Khusus untuk Timor Leste terdapat 45 item yang tersimpan di sini. Koleksi museum ini bukan saja benda-benda yang dianggap luar biasa seperti arca dan prasasti tetapi juga benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tak heran jika anda akan mendapati mainan anak dari biji manga tua yang biasa di mainkan di Rote, alat pemanggil sapi dari Timor, tempat sirih dari Sumba atau sisir dari Alor.

Khusus untuk buku, terdapat 4.288 buku tentang Indonesia di museum yang beralamat di Steenstraat 1, Postbus 212, 2300 AE Leiden ini. Khusus tentang Nusa tenggara sendiri terdapat 152 buku yang tersimpan di museum ini.

Koleksi dari Timor terdiri dari 41 buah dari Belu, 625 dari Kupang (termasuk Rote 425, Sabu 187), 16 dari TTS dan 18 dari TTU.  Dari Rote misalnya anda bisa melihat ‘tabu eis’ atau sandal dari lontar yang mungkin tidak pernah terlihat lagi di Rote. Juga anda bisa melihat ‘kakabik’ atau penjepit mayang lontar, kapisak atau nyiru. Dari Alor misalnya anda bisa melihat bukan saja moko tetapi juga sisir bambu dan busur dan panah.

Untuk mengetahui apa saja koleksi benda-benda yang tersimpan dalam museum ini anda bisa melihat database digitalmuseum ini. Untuk mengetahui koleksi buku-buku anda bisa melihat database perpustakaan, sedangkan jika ingin mendapat penjelasan yang lebih lengkap tentang koleksi museum ini anda bisa melihat profil koleksinya dalam bahasa Belanda.

Piong

Mainan anak Rote tahun 1959 [Sumber: Digital Database Volkenkunde Museum]

Koleksi-koleksi dari Bali, NTB dan NTT yang pada jaman Belanda disebut de Kleine Soenda eilanden aalah koleksi etnografi tertua dan berkelas yang kebanyakan didapatkan dari perjalanan sebuah Komite Fisika di tahun 1828-1836. Namun setelah itu juga didaptkan koleksi-koleksi lain seperti dari koleksi B.F. Matthes, Dr. G.A.J. van der Sande (1671, 1710) dan dari B.A.G. Vroklage. Koleksi awal yang dikumpulkan kebanyakan berupa tekstil atau kain-kain tradisional.

Museum yang awalnya dinamakan  “Museum Japonicum” ini merupakan museum pertama di Eropa yang dirancang untuk menunjukkan bahwa mengumpulkan artefak-artefak manusia bisa berarti lebih dari sekedar akumulasi rasa ingin tahu. Sejak awal institusi ini menggabungkan empat prinsip dasar: mengumpulkan, penelitian ilmiah, pemaparan kepada public dan pendidikan.

Di awal tahun 1830-an, Philipp Franz Balthasar von Siebold pindah dari Belgia yang bergolak ke Leiden yang relative aman. Beberapa tahun kemudian, koleksi Siebold yang berasal dair Jepang sejumlah 5.000 benda menjadi koleksi museum ini. Koleksi  Siebold dibuka untuk umum di awal tahun 1830-an.

Pihak Kerajaan Belanda sebelumnya telah membeli koleksi yang lebih kecil jumlahnya dari Jan Cock Blomhoff di tahun 1826 dan dari Johannes Gerhard Frederik van Overmeer Fischer di tahun 1832. Keduakoleksi ini kemudian digabungkan dengan koleksi Siebold yang telah dilimpahkan kepada Raja William I sehingga keseluruhan koleksi itu menjadi unsur penting dalam terciptanya apa yang disebut Museum Etnografik di Leiden tahun 1837. Museum ini kemudian menjadi  Museum Nasional Ethnology. {S}

8 thoughts on “Ada 3000 benda dan artefak dari NTT di Museum Volkenkunde Leiden

  1. Ada beta sedikit haik Rote dengan haik Sabu. Alasannya karen asalnya sama dan kemudian berkembang sendiri? Ataukah ada salah satu yang meniru yang lain? Ada yang tau ko?

    Suka

  2. Tabu eis seperti kasut kaki yg dipakai oleh org2 dari luar.,,,,apakah dulu pernah ad org yg pernah membawanya k rote yg kemudian dibuat dgn versi rote daun lontar????, cth seperti topi org rote antara rote delha n oenali mreka tdk mengunakan topi berantene ato ti,i langga ttpi topi mereka topi bulat layaknya topi kaboi org barat ,,,,apakah mereka terinspirasi dgn adanya pendatang dari luar yg membawa kemudian diikuti dgn membuat versi daun lontar????? Hhhhhh,,,,mohon ad yg menjelaskan,,,,,,hhhh tx,,,,

    Suka

  3. Pertanyaan yg bagus sekali. Tolong kalau ada yg tau ya dijawab, biar katong anak2 muda sekarang bisa tau dn sonde lupa katong pung jati diri.

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s